Senin, 21 November 2011

Dalam kegalauan

saat mentari menyinari,saat rasa ini menyatu dengan apa yang kurasa, hadirmu seperti embun yang menyejukkan hati, membasuh semua luka diri m senyum yang selalu kau toreh dalam hariku ,

demi malaikat yang menemaniku tidur dan menjagaku, kukirimkan seribu doa untukmu setiap nafasku ,berharap kau selalu terjaga dan mengingatku, melantukn beribu syukur atas nikmatku yaitu di pertemukan tuhan denganmu ,kau bagai malaikat penolongku,kau adalah jawaban doa2ku selama ini, di dalam sendiri ku tersungkur dan menepis segala amarah di hati ,jiwa ini sepi tanpa hadirmu.engkaulah sang pencerah dalam hatiku dan hidupku, kau rubah cerita perjalanan hidup dalam sisi manusiaku,

Selasa, 16 November 2010

SENTUHAN KEADILAN (BOOK SUFISM IN ACTION)


















Selama waktu itu aku berada di IMF saya harus wawancara banyak dan sering ada kejutan ini bahwa pegawai negeri sipil aktif bisa pada saat yang sama menjadi mistik.. Saya menemukan kombinasi yang sangat inspiratif dan bermanfaat. Itulah sebabnya saya telah menulis dua buku saya ... "Dr H. J. Witteveen ke Berita sufi, November 2010
Dengan Reporter Staf, Bisnis *: Sebuah * Mystic Angker - Time - New York, NY, USA / Senin, Agustus 15, 1977
Hendrikus Johannes Witteveen, 56, direktur Dana Moneter Internasional, adalah hamba yang paling misterius sipil internasional sejak jaman Dag Hammarskjeid, mistik yang meninggal dalam kecelakaan pesawat saat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Seorang ekonom dengan pelatihan, Witteveen selalu membawa kalkulator saku, yang ia cambuk ke dalam tindakan selama diskusi esoterik keuangan internasional.
Sebuah penganut ketat kultus agama mengaburkan sufi, Witteveen, meskipun tekanan intens dari pekerjaannya, menemukan waktu untuk bermeditasi setiap pagi dan sore. Dia melihat ada konflik antara praktek ilmu suram dan mistisisme Sufi. Katanya dia: "Gerakan sufi berada di atas semua perbedaan kebangsaan dan ras."
Pada malam pertemuan darurat dari 14 negara bersidang di Paris minggu lalu oleh IMF, Witteveen, seorang tokoh tipis, elegan yang tinggal di Washington bersama istrinya, berbicara tenang untuk TIME tentang filosofi ekonomi dan keyakinan agamanya. Meskipun ia menyebut dirinya seorang liberal (dia adalah anggota dari Rakyat Belanda Partai untuk Kebebasan dan Demokrasi), dan mengakui suatu utang intelektual Keynes, ia tetap yang beriman dalam "mekanisme pasar dan mekanisme harga."
Pada saat yang sama, Witteveen adalah sesuatu tetapi seorang administrator pasif. Dia ingin IMF untuk memberikan bantuan lebih banyak dan dengan syarat yang lebih keras ke negara-negara ekonomi bermasalah. Ia percaya bahwa anggota dana akan menyetujui beberapa artikel baru yang akan memungkinkan dia untuk polisi nilai tukar mata uang. Bahkan lebih ambisius, ia ingin melihat IMF pada peran bank sentral dunia.
"Dengan tanggung jawab besar seperti kita dengan mudah bisa menjadi sangat tegang," kata Witteveen, yang eklektik daftar bacaan meliputi Alkitab, Quran dan Inspektur Maigret novel detektif.
Tetapi sebagian besar dari semua ia menemukan kedamaian batin dalam meditasi, "berpaling dari semua yang terjadi di siang hari."
Witteveen's orangtua keduanya anggota gerakan sufi. "Aku dibesarkan dengan itu aku mulai. Untuk belajar, dan sangat banyak tersentuh dan meyakinkan Ini adalah filosofi yang mendalam dan luas dari kehidupan. Sebuah bagian penting dari itu adalah mistisisme.."
Tepat di antara sepuluh artikel iman yang dianut oleh seorang sufi adalah hukum timbal balik: "Untuk memenuhi oleh tidak mementingkan diri sendiri dan rasa keadilan bagi umat manusia." Striker Belanda keras meluncurkan program penghematan dengan rasa mendalam tugas.
catatan [Editor: Dr HJ Witteveen, atau Murshid Karimbakhsh, yang bagaimana dia biasanya dikenal di kalangan sufi, adalah murshid (panduan) dalam Gerakan Internasional Sufi. Kami adalah publikasi ulang artikel ini berumur 33 tahun tentang dia karena-sebagai Ibn 'Arabi mengatakan-"memiliki banyak cahaya di dalamnya". Sepanjang hidupnya Dr Witteveen telah dan saat ini merupakan contoh yang sangat baik dari prinsip sufi conjoining aktivitas di dunia bersama dengan spiritualitas.
Sufisme dalam Aksi (2003) dan Universal tasawuf (2002/1997) tersedia dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Belanda dan-yang terakhir-juga di Italia.]

Jumat, 12 November 2010

BERJALAN-JALAN (jalan menuju kalbu) DENGAN HIDUP

 Saat kita di lahirkan,kita tak tahu apa2 tapi yang kita tahu pastilah kita menangis,dan secara harafiah tangis adalah sebuah kesakitan,kesedihan,kehilangan,keputus asaan,jalan terakhir menuju hati adalah tangis,di kala semua sibuk membuang kesedihan di sana tangis menunggu untuk mengembalikanmu kembali ke dalam kalbumu,,


Manusia tidak luput dr apa yang di sebut Serakah ,tamak,,dan sifat yang lainnya yang tak cukup di sebutkan.,kemunafikan,kebodohan,dan takut di bilang rendahan,tak berharta,miskin,tak beradab..status yang di andalkan,,

Kembali lagi berjalan menyisiri hati yang pedih ini..meratapi lagi dengan kawan baik yaitu Tangis ..lagi2 hanya dia yang menemani kita di saat segalanya tak bisa kita terima akal otak nafsu pikiran kita,,semua lari tak mau menolong kawan yang senantiasa bersama kita hanya akan berteman di saat kita berada,berkedudukan,berduit,punya kelebihan yang dia inginkan,,semua tak lagi ada di saat kau sendirian,,semua berjalan melambai pergi ,,dan hanya kamu dan tangis yang mengalir ,,lalu
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ akan kau sadari kenapa begini,,setelah semua terjadi lalu kau renungi,,kenapa,,,semua kau tanyakan setelah semua terjadi,,tak cukupkah kehidupan melupakanmu dr semua ini...
jika kau manusia biasa yang sangat biasa hingga sebiasa seperti hewan yang hanya memikirkan makanan,kenyang tidur,datang musim kawin,beranak,,bukankah seperti hewan?,,tujuan dr kamu di buang ,,ke dunia agar kau tak seperti dirimu dulu yang seperti hewan,seperti tumbuhan,seperti tanah,,tapi semua tak menyadari ,,dan yang sadar sepet ini dianggap gila,stress..mungkin sudah nasibnya jadi orang yang paling goblok pikirannya karena belum dan tidak mau,,atau menutup hati untuk tidak mau tahu tentang kesadaran diri,,seperti halnya dosa ..yang jelas 2 semua nya haram tapi tetap hati keras merelakan saja ,,bukankah keteguhan hati di perlukan ,,bukan ketakutan neraka,,tapi memang pengabdian akan hati bahwa hal yang di larang tdk boleh di lakukan dan dosa adalah manifestasinya,,dasar manusia-manusia,,jangan salah ,,saya sendiri biangnya pendosa,,tapi mengapa saya marah melihat orangberbuat dosa,,karenadosa banyak levelnya,,banyak jenisnya,,hanya satu dosa yang saya buat adalah hak milik sendiri dan  saya pastikan gak mengajak orang lain tidak ikut berdosa,tidak merugikan orang lain,,cukup diri saya sendirir,,entah caci maki atau apa saja sumpah serapah saya terima dengan ihklas,,,


hey hewan,,hewan,,marilah kita berkumpul dan merelakan jiwa busuk kita,,,merelakan mengikhlaskan tubuh kita untuk yang lemah yang lain,,,,berkorbanlah,,bukan hanya berkorban harta,,tapi berkorban nurani ,jiwa,hati,kalbu,,untuk AL -HAQQ

@#@rahadian hallaj_13-11-10

Jumat, 05 November 2010

MENJADI DIRI SENDIRI untuk DIRI

  Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Bahwa RasuluLlah SAWW bersabda, “sesungguhnya sebaik-baik penghidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali kuda) di jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap berada si atas punggungnya dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar jurang yang senantiasa menerjakan salat, memberikan zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang tidak dimiliki orang lain kecuali tetap dalam kebaikan”.
Khalwat adalah merupakan sifat orang sufi. Sedangkan uzlah adalah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan Allah Ta’ala. Seharusnya bagi murid pemula (yaitu orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah) agar uzlah (mengasingkan diri dari bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwah (mneyepi) sehingga ifat lemah lembut akan dapat tercapai. Hakikat khalwah adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Ahl demikian dikarenakan khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju hati, dan hati menuju ruh dan daru ruh menuju alam rahasia /sirr dan dari alam rahasia menuju Dzat Maha pemberi segalanya.
Hamba yang melakukan uzlah haruslah diniatkan karena Allah Ta’ala dengan maksud dan niatan menjaga keselamatan orang lain dari perangai buruknya. Dan janganlah bermaksud menjaga keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena pernyataan yang pertama adalah wujud dari sikap rendah ahti /tawadhu’ sedangkan pernyataan yang kedua adalah menunjukkan sifat sombong yang ada pada dirinya.
Sebagian pendeta ditanya, “Apakah engkau seorang pendeta ?” maka dia menjawab, “Tidak saya hanyalah sebagai penjaga anjing. Jiwaku serupa dengan anjing yang dapat melukai orang lain, karena itu saya harus keluar dari mereka supaya mereka selamat”.
Pada suatu saat ada seorang bertemu dengan orang saleh yang sedang mengumpulkan pakaiannya. Lelaki itu bertanya “Mengapakah engkau kumpulkan pakaianmu. Apakah pakaianku itu najis ?” maka orang tua yang saleh etrsebut menjawab, “tidak, tetapi pakaiankulah yang najis dan aku kumpulkan agar tidak menajiskan pakaianmu”.
Sebagian dari tatacara uzlah adalah untuk memperoleh ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid. Selain itu untuk memperoleh ilmu syari’at atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya menjadi pondasi yang kuat-untuk dilaksanakan. Esensi uzlah adalah menghindarkan diri ari perbuatan tercela. Sedangkan hakikatnya adalah menggantikan sifat yang tercela untuk di isi denagn sifat yang terpuji, bukan untuk menjauhkan diri dari tempat tinggalnya / tanah arinya. Ditanyakan, “Siapak orang yang ma’rifat itu ?” dijawab ,”mereka adalah orang yang selalu berada di tepi jauh, yakni dia selalu bersama orang lain sedangkan hatinya jauh dari mereka”.
Asyaikh Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Berpakaianlah sebagaimana orang berpakaian, makanlah sebagaimana orang makan, dan menyendirilah dengan bersembunyi”. Beliau juga mengatakan, “Suatu hari seseorang datang kepadaku dan bertanya, ‘Saya datang kepadamu dari perjalanan yang sangat jauh ?’. lalu aku jawab cerita ini dengan bukan dengan arti jaarak perjalanan yang terputus dan perjalanan yang melelahkan. Renggagkan jiwamu dengan satu langkah, maka tujuanmu akan tercapai’”.
Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Busthami, RA, beliau berkata, “Saya pernah bermimpi bertemu Tuhan, kemudian saya bertanya, ‘Bagaimana caranya agar aku isa bertemu denganNya ?” Dan Ia menjawab, “Pisahkan jiwamu dan bersegeralah datang”.
Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, “Barang siapa ingin meninggalkan masyarakat, selayaknya ia meninggalkan semua ingatan kecuali ingat kepada Tuhan, meninggalkan semua keinginan kecuali mencari ridha Tuhan, dan meninggalkan semua tuntutan hawa nafsu. Jika tidak demikian maka apa yang dikerjakan akan menimbulkan fitnah dan cobaan”. Menurut suatu pendapat, khalwat adalah pekerjaan yang paling dicintai untuk mendorong raa rindu.
Muhammad bin Hamid berkata, “Seseorang bertamu kepada Abu Bakar Al;-Waraq, ketika akan pulang ia meminta kepada Muhammad agar meberi wasiyat kepada dirinya. Abu Bakar Al-Waraq menjawab, “Engkau telah mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat karena engkau selalu menyendiri dan meninggalkan pergaulan masyarakat. Kejelekan dari keduanya terletak pada pencampur adukan dan pembauran”.
Abu Muhammad Al-Jariri ditanya tentang uzlah, dia menjawab, “Uslah adalah masuk ke tempat yang sempit, menjaga rahasia agar tidak terjadi gesek menggesek dan meninggalan keinginan hawa nafsu sehingga hatimu terkait dengan kebenaran”. Ada yang berpendapat, urgensi uzlah adalah menghasilkan kemuliaan.
Menurut Sahal, khalwat tidak dpat dibenarkan kecuali dengan meninggalkan yang haram. Dan meninggalkan barang yang halal juga tidak dibenarkan kecuali dengan melaksanakan hak Allah Ta’ala. Dzunun AL-Mishri berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang dapat menimbulkan sikap ikhlas kecuali kekasihmu adalah khalwat, makananmu adalah lapar, dan pembicaraanmu adalah lapar. Apabila engkau meninggal dunia, engkau selalu bersambung kepada Allah”. Dzunun al-Mishri juga ppernah berkata,”Orang tidak akan terhalang dari makhluk hanya karena khalwat sebagaimana orang tidak orang tidak akan terhalang dari mereka karena mendekatkan diri kepada mereka”.
Menurut Al-Junaid, “Susahnya uzlah lebih mudah dari pada siklus kehidupan bermasyarakat”. Menurut makhul As-Syami, “Jika kehidupan bermasyarakat memperoleh kebaikan, maka uzlahpun juga memberikan keselamatan”. Sedangkan menurut Yahya bin Muadz, “Menggabungkan keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran”.
Syaikh Abu Ali berkata dengan mengutip apa yang disampaikan Imam As-syibli, “Manusia akan bengkrut dan bangkrut “. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa tanda-tanda orang yang bangkrut wahai Abu Bakar ?”. beliau menjawab, “Tamda orang yang bangkrut adalah orang yang menyakiti orang lain”.
Yahya bin Abu Katsir berpendapat, “Barang siapa yang bergaul dengan orang lain, maka ia akan didekati. Barang siapa yang mendekati orang lain maka ia akan dilihat”. Said bin Harits telah berkata, “Saya pernah mengunjungi Malik bin Mas’ud di kufah. Dia menyendiri di rumahnya. Setelah itu kutanyakan sesuatu kepadanya, ‘Apakah engkau tidak kesepian menyendiri di temapt ini ?’ Dia menjawab, “Saya tidak pernah melihat seseorang kesepian jika dia bersama – sama Allah”.
Al Junaid berkata, “Barang siapa yang hendak menyerahkan agamanya dab menentramkan tubuh dan hatinya, hendaknya ia menjauhkan diri dari orang lain. Masa sekarang adalah masa kesepian. Oleh karena itu, orang yang memiliki akal sehat, tentu akan menyendiri”. Al-Junaid telah mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata, “Abu Ya’qub As-Susi berkata bahwa seseorang tidak akan mampu menyendiri kecuali hanya orang-orang yang kuat. Oleh karena itu orang seperti kita bermasyarakat tentu lebih baik dan lebiih bermanfaat”. Abul Abbas Ad-Danaghani berkata, “Imam Syibli berwasiyat kepadaku, ‘ menyendirilah dan hapus namamu dan menghadaplah ke dinding sampai engkau mati”.
Ada seorang laki-laki datang kepada Syu’aib bin Harb, beliau bertanya , “Apa yang menyebabkan engkau datang kepadaku ?”. dia menjawab, “Agar saya dapat selalu bersamamu”. Kemudain Syu’aib berkata, “Wahai saudara, ibadah tidak akan bermanfaat jika berbaur dengan syirik. Barang siapa yang tidak mencintai Allah, maka ia tidak akan menjumpai sesuatu yang dicintainya”.
Sebagian ulama ditanya, “Apakah yang membuatmu heran / ujub ?”. Dia menjawab, “Keindahan yang dapat mendorong persahabatan. Oleh akrena itu aku selalu takut menyerahkan diriku kepada Allah Ta’ala akan menjadi rusak”. Ulama yang lain juga pernah ditanya, “Apakah di sana ada orang yang mencintaimu ?”. Dia menjawab, “Ya, dia selalau merentangkan kekuasaannya di dalam kiatbnya dan meletakkannya di atas batu”. Dalam konteks seperti ini ada sya’ir :
Kitab-kitabMu ada di sekelilingku
Oleh karena itu jangan kau pisahkan dari tempat tidurku
Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan orang
Yang saya sendiri adalah yang menyembunyikannya
Seorang lelaki bertanya kepada Dzunun Al Mishri, “Kapan saya boleh uzlah ?”. Beliau menjawab, “Jka engkau telah mampu mengasingkan dirimu sendiri”.
Ibnu Mubatrak telah ditanya, “Apa obat hati ?” Dia menjawab, “Meminimalkan pergaulan dengan masyarakat”. Menurut suatu pendapat jika Allah hendak memindahkan seseorang dari kemaksiyatan yang hina menuju kemuliaan ta’at, Allah Ta’ala pasti mencintai dia dengan menyendiri, mencukupi dia dengan menerima, dan memperlihatkan dia segala cacat yang tertanam di dlm jiwanya. Apabila hal tersebut telah diberikan, maka kebaikan dunia danakhirat pasti akan diberikan kepadanya”.

Minggu, 31 Oktober 2010

SEPERTI TIDAK BERGERAK

Saat kita berada di ambang kejenuhan,,saat kita merasa perlu perubahan di sanalah kau akan menemukan bahwa dunia ini tidak berputar,dan semua terasa sama,,hanya berulang-dan terus berulang,,karena semua pada dasarnya ada pada dasar cerita hanya nama,tokoh,pemain,lokasinya saja yang berbeda............jika kau ingin menyendiri seperti aku yang terasa sepi hampa walaupun di tempat seramai pasar,,yang kau lihat hanya sekerumun mayat,,dan sinar-sinar yang mengontrol mereka bergerak seperti mainan remote control robot2an,,tidak kau pikir manusia hanya sebagai sarana,,manusia bukanlah dirimu sebenarnya,,karena manusia hanyalah sebagaian dr dirimu,,yang kau rasakan hanyalah nafsu yang mengerakkanmu,,,lalu siapa kamu...siapa dirimu,,(jika kamu menjawab namamu,,,.maaf jangan di teruskan membaca POST saya ini),,,

  Pertanyaan itu sederhana sekali,,dan jawaban nya tidak sederhana ,,namun penuh dengan arti,,dimana kau akan mengerti betapa tiada berguna,tiada daya,kecil..dan sangat hina serta lemah...___


kita semua mati,,lalu di hidupkan,,kemudian mati,,,lalu dihidupkan ...kemudian mati,,,dan seterusnya..pernah kau merasa seperti hewan,seperti tumbuhan,,seperti air,,..mereka lah dirimu sebelum kau dirubah menjadi dirimu..  

Selasa, 26 Oktober 2010

SOFIE,,,,,MENGAPA AKU.......

 Aku tak tahu mengapa aku menyayangimu,Aku juga tak mengerti mengapa aku merasa berhak untuk memelukmu,,hingga aku rela melepas semua ,,hingga aku bisa menahan kehinaan,,mengapa aku tergerak untuk menarikmu,,entah kekuatan apa  yang membuatku seperti ini,,aku merasa kau bukan dirimu,,dan aku pun tak tahu siapa sebenarnya dirimu dulu,,tapi hatiku yakin sekarang ini ,,itu bukan dirimu,,mengapa aku ,,dan siapa aku ..yang terlalu ambil perduli dengan kehidupanmu,,mengapa kau selalu membayangi setiap gerakku,,hingga aku pun terlupa akan hal yang tak boleh aku lupakan ..yaitu DIRINYA,,,,,dan sekarang aku tak tahu lagi apa yang aku lakukan,,aku hanya ingin di SANA

malam semakin malam aku semakin hanyut akan emosi yang terbang,,dan fikiranku terus melayang tertuju pada dirimu,,


dan lagu-lagu pun terdengar,,,

SUDAH.mp3
AkuBukanPilihanHatimu.mp3
Rossa_-_Terlalu_Cinta.mp3
Once%Aku Mau.mp3
Hadapi dg Senyuman.mp3
Pas f Tere-.mp3

itu saja ,,karena aku dah lelah dengankehidupan,,

Jumat, 22 Oktober 2010

GARA-GARA ....(sebab-akibat) ,,


Di sebuah warung ,sewaktu menunngu anak saya pulang sekolah..terjadi obrolan yang menurut orang sangat gak penting,,tapi mungkin sangat dalam,,"..boleh sayatanya kamu,,?kamu hidup dimana?kamu makan dr apa?,,kamu berbicara bahasa apa?.." orang yang bertanya adalah orang yang di anggap orang gak jelas watak,sifat,,karena di anggap perusuh masyarakat (MaaF)bisa di bilang tokoh bajingan kelas kecamatan,,heheheh,,mulai dari togel,pemabuk,bandar dadu,tukang tayub,pokoknya gak jelas pekerjaannya,,dan akhir-akhir ini tersiar dia sudah bisa ngobati orang sakit,,(PARANORMAL),,pembicaraan saya dengan si MR.X ini..sangat panjang ,,mulai membahas jasapemanggil uang,pelet,santet,,dll,,...tapi yang menarik bagi saya adlah pertanyaannya itu yang dia mengira saya tidak bisa menjawabnya,,harapannya bila saya tidak bisa menjawab saya pasti kena 2 jam lagi khotbahnya yang ada tema,,hahahah,,,pertanyaanya saya jawab sangat ringkas dan tegas,,"MONGGO..!!AKU HIDUP DI PULAU JAWA,SAYA MAKAN DARI HASIL BUMI PULAU JAWA,BICARA BICARA TATA CARA JAWA....TAPI AKU BELUM BISA MENJADI ORANG (jawa)..".Mendengar jawaban saya lalu MR.X bercerita tentang asal usul pulau jawa,,persis seperti apa yang di ceritakan mbah kakung saya ,,(orang jaman dulu menganut aliran KEJAWEN,,yang sekarang banyak di anggap musyrik,haram,syirik,karena keterbatasan logika dan penalaran tanpa melihat konteks yang ada..)karena kejawen seperti perpaduan antara islam dan hindu,,sebenarnya menurut saya itu adalah fase peralihan hindu ke islam,,tata cara walisongo yang menarik seolah-olah mereka tanpa sadar sudah masuk islam,tanpa perang,tanpa pemaksaan,,seperti adanya wayang.sebagai media saja,,mungkin sekarang TV,RADIO.dll.sarana dakwah,,entah mengapa saya tertarik mengungkapkan sedikit cerita tentang aji soko,,karena sekarang banyak yang lupa asal-usulnya,,banyak yang tidak ingat lagi siapa dirinya dulu..sejarah boleh di jadikan cermin untuk melihat masa depan,,

berikut saya berikan sedikit pembahasan sosok aji soko,,yang saya sadur dr Mas Kumitir.
Sosok Ajisaka

Karena kehendak Allah jugalah terjadinya manusia, hewan, pepohonan, kutu walang ataga, yang kesemuanya itu terjadi serta hidup dan dapat dilihat secara nyata wujudnya (ana rupa-wujude). Atas kehendak Allah tersebut yang luluh pada diri manusia, menyebabkan manusia memiliki keluhuran, keimanan, bawa laksana,
welas asih, keadilan, ketulusan, eling lan waspada. Kesemuanya itu memberikan manusia kemuliaan (kamulyan) dan kesejahteraan (karahayon). Rasa tersebut juga menghubungkan kehidupan manusia dengan Allah Sang Maha Pencipta.

Ca-ra-ka sendiri pengertiannya adalah memuliakan Allah. Sebab tanpa ada bawana seisinya, apalagi tanpa adanya manusia, tentu tidak akan ada sebutan Asma Allah. Tanpa adanya caraka, tentu pula Hana-Ne tidak akan disebut Hana. Sementara makna Da-ta-sa-wa-la dapat dijelaskan maknanya sebagai berikut. Adanya yang ada (anane dumadi) sumber asalnya adalah Satu, yaitu Dzat Allah. Dari yang kasar dan halus (agal lan alus), wingit (penuh misteri) dan gha’ib, pasti pada dirinya melekat setidaknya secercah Dzat Allah (kadunungan sapletheking Dzat Allah). Artinya, pancaran kun fayakun itu tidak hanya mencipta bawana seisinya, namun terus-menerus memancarkan kasih, mencermati dan meliputi terhadap seluruh kehidupan (ngesihi, nyamadi lan nglimputi sakabehing dumadi).

Allah menciptakan bawana seisinya, khususnya dalam menciptakan manusia, bukan tanpa rencana, namun dengan keinginan dan tujuan yang nyata dan pasti. Titah Allah tidak dapat diingkari dari apa yang sudah ditetapkan menjadi kodrat (pepesthen). Demikian juga seluruh makhluk hidup di dunia (saobah-mosiking dumadi) pasti terkena keterbatasan dan pembatasan (wates lan winates), seperti halnya sakit dan kematian. Namun selain itu, juga melekat dalam dirinya (kadunungan) kelebihan satu dari yang lain, saling ketergantungan, lebih melebihi (punjul-pinunjulan) dan saling hidup-menghidupi (urip-inguripan).

Baik dalam rupa, wujud, warna dan sosoknya (balegere dumadi), manusia dapat dikatakan sempurna tiada yang melebihi (kasampurnaning manungsa). Terciptanya manusia yang ditakdirkan (pinesthi) menjadi Wali Allah, menandakan bahwa hanya sosok manusia sajalah yang mampu menjadi Warangka Dalem Yang Maha Esa (wakil Tuhan di dunia). Kelahiran manusia dalam wujud raga-fisik dan bentuk badan itu merupakan sari-patining bawana. Maka, menjadi keniscayaan jika manusia mampu menggunakan dayanya guna mengungkap rahasia alam.

Kelahiran hidup manusia, merupakan wujud dari sukma, yang dalam proses mengada dan menjadi (being and becoming) terbentuk dari sari-pati terpancarnya Dzat Allah (dumadi saka sari-pati pletheking Dzat Allah). Oleh sebab itu, manusia mampu mengkaji dan menelusuri, menggali dan mencari serta meyakini dan mengimani adanya Allah (nguladi, ngupadi, ngyakini lan ngimani marang kasunyataning Allah), sebab sukma sejati manusia itu berasal dari Sana (sabab suksma sajatining manungsa asale saka Kana). Selanjutnya Pa-dha-ja-ya-nya, maknanya bahwa sawenehing kang dumadi atau apa pun dan siapa pun tidak akan dapat hidup sendiri, sebab ia akan senantiasa menjalani hidup dan kehidupan bersama, sebagaimana keniscayaan
fitrahnya, bahwa: panguripaning dumadi tansah wor-ingaworan -dalam kehidupan manusia selalu saling pengaruh mempengaruhi— selain juga punya ketergantungan satu sama lain. Begitu juga hidup manusia, bahwa perangkat badaning manungsa tidak mungkin secara parsial dapat hidup sendiri-sendiri. Artinya, ana raga tanpa sukma/nyawa tidak mungkin bisa hidup, tetapi ana sukma tanpa raga juga tidak bisa dikatakan hidup, karena tidak bisa bernafas.

Jika seluruh anggota badan makarti semua, baru disebut urip kang sejati. Daya hidup (sang gesang) akan melekat (built-in) pada setiap diri-pribadi seseorang, yaitu rupa, wujud berikut segala tingkah-lakunya. Dapat dikatakan daya hidup akan luluh pada dirinya (sing kadunungan). Semua yang berwujud dan hidup pasti bakal tarik- enarik, saling bersinergi (daya-dinayan), sehingga menimbulkan daya-daya, seperti: daya
adem-panas, positif-negatif, luhur-asor, padhang-peteng, dan kesemuanya itu senantiasa berputar silih berganti (cakra manggilingan).

Semua inti dari interaksi tersebut ada pada diri manusia, di mana inti tadi sebenarnya telah terserap dari badan manusia sendiri. Maka dapat disimpulkan, bahwa obah-mosiking jagat/alam, juga terjadi pada obah-mosiking manungsa secara pribadi. Di mana ketika terjadi gonjang-ganjinging jagat/ alam, kejadian pada manusia juga demikian adanya. Ketika manusia bertingkah-laku angkara-murka, merusak dan sebagainya, jagat/alam juga berada dalam ancaman bahaya, misalnya musibah banjir, lahar, tanah longsor, banyaknya kecelakaan dan sebagainya.

Makanya, manusia harus selalu ingat akan kewajiban pokoknya, yaitu: Hamemayu-Hayuning Bawana. Artinya, kanthi adhedhasar sarana sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu sebetulnya manusia dapat nyidhem atau menghindari kerusakan alam semesta, selain juga bisa nyirep dahuruning praja (memadamkan kerusuhan negara).

Ikatan manusia dengan Allah Swt., berupa keyakinan dan kepercayaan yang diwujudkan dalam panembah lan pangesti seperti ditulis dalam tuntunan kalam, yang disebut agama, mewajibkan manusia manembah (sembahyang, samadi) hanya tertuju kepada Yang Satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ketika manusia manembah melalui sembah rasa, harus dengan seluruh sukma (roh, moral) kita, bukan badan raga yang penuh dengan kotoran (nafsu duniawi). Sebetulnya sembah raga itu hanya sarengating lahir, agar supaya umat manusia taat dan manembah marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Manusia itu paling dipercaya ngembani asmaning Allah, maka manusia harus menduduki rasa kemanusiaannya. Untuk itu, manusia harus bisa menempatkan diri pada citra keTuhanannya. Allah telah menciptakan apa saja untuk manusia, jagat sak isine, tinggal bagaimana manusia bekti marang Allah Kang Maha Esa. Tergantung manusianya, seberapa besar tanggung jawabnya marang Kang Maha Kuasa, sebab bawana beserta seluruh isinya adalah menjadi tanggung jawab manusia.

Yang terakhir, Ma-ga-ba-tha-nga dapat dijelaskan maknanya, kurang-lebih sebagai berikut. Manungsa kang kalenggahan wahyuning Allah, manungsa kang manekung ing Allah Kang Maha Esa dadi daya cahyaning Allah lan rasaning Allah luluh pada sukma manusia. Jagat (alam) tergantung pada sejarah umat manusia yang disebut awal dan akhir, juga menjadikannya jantraning manungsa. Hakikatnya gelaring alam/jagat itu, juga gelaring manungsa. Jadi di dunia ini ora bakal ana lelakon, ora ana samubarang kalir, kalau tidak ada gerak kridhaning manungsa.

Setelah ada manusia, sakabehing wewadi, sakabehing kang siningit lan sinengker wus kabukak wadine –semua telah jelas, semua telah menjadi nyata.

Wis ora dadi wadi, amerga wis tinarbuka;
Wis ora ana wingit, amerga wis kawiyak;
Wis ora ana angker, amerga wis kawuryan.

Artinya, kalau semua sudah kamanungsan/konangan —kalau semua telah menjadi kenyataan— berarti tugas kewajiban manusia di dunia telah selesai. Sudah sampai pada perjanjian pribadining manungsa dan sudah titi mangsa harus pulang marang pangayuning Pangeran. Dari tidak ada menjadi ada (ora ana dadi ana) menjadi tidak ada lagi (ora ana maneh). Artinya, sakabehing dumadi yen wis tumekaning wates kodrate, mesti bakal mulih marang mula-mulanira lan sirna. Awal-akhire, artinya sangkan paraning dumadi wis khatam/tamat. Kalau umat manusia sudah tidak ada lagi -kang dadi asmaning Allah-juga tidak akan disebut (kaweca), ana.

Demikianlah, kurang lebih hasil perenungan saya selama ini dalam menggali makna filosofis yang terkandung dalam ajaran Aji Saka: “Ha-na-ca-ra-ka”. Betapa pun kita mengagungkan ke-adiluhung-an karya sastra Jawa, seperti Serat Wulangreh, Serat Wedhatama, atau pun filsafat Ha-na-ca-ra-ka, apabila tanpa penghayatan dan meresapi nilai-nilai substansial yang terkandung di dalamnya serta usaha mengembangkannya, tentulah tidak akan bermakna bagi kehidupan sastra Jawa masa kini dan masa depan, apalagi terhadap budaya Indonesia Baru yang harus kita bangun.

Sastra Jawa mengandung wulang-wuruk kejawen, yang jika dilakukan penelitian lebih suntuk akan bisa digali ajaran kehidupan yang mampu memberi pencerahan pikir dan rasa untuk direnungkan di malam hari. Kesemuanya itu seakan meneguhkan makna peninggalan Aji Saka yang diungkapkan Sri Susuhunan Paku Buwono IX dalam tembang Kinanthi: “… Nora kurang wulang-wuruk, tumrape wong tanah Jawi. Laku-lakuning ngagesang, lamun gelem anglakoni. Tegese aksara Jawa iku guru kang sejati”.